TIMBULNYA FILSAFAT

DAFTAR ISI

 

 

 

 

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………….          i

KATA PENGATAR………………………………………………………………………..          ii

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………..          iii

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………..          1

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………….          3

  1. Manusia Adalah “Ens Metaphysicum”……………………………………..          3
  2. Filsafat Bersifat Eksistensial……………………………………………………          4
  3. Permulaan Fisafat Adalah Keheranan……………………………………….          5
  4. Beberapa Jalan Ke Filsafat………………………………………………………          6
  5. Filsafat Timbul Dari Kodrat Manusia……………………………………….          7
  6. Kodrat Manusia Mendorong Ke Filsafat…………………………………..          8
  7. Filsafat Sebagai Hasil Evolusi………………………………………………….          9
  8. Filsafat Sabagai Ajaran Hidup…………………………………………………          10

BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………          11

DAFTAR PUSTAKA

BIOGRAFI PENULIS


BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Pengertian tentang filsafat yaitu dengan menemukan bagaimana filsafat itu timbul dari kodrat manusia artinya asal ada manusia, ada filsafat; karena sesuai dengan kodratnya manusia itu.

Telah dikatakan: filsafat adalah bentuk pengetahuan tertentu, bahkan bentuk pengetahuan  manusia yang tersempurna, merupakan perkembangan yang terakhir daripada “pengetahuan biasa”. Inilah yang sekarang harus diperdalam. pengetahuan buss tetap merupakan dasarnya, sekarang hanya ingin kami kemukakan beberapa aspek lain, selain ilmu-ilmu pengetahuan yang semuanya-  mendorong manusia ke arah filsafat.

Hingga menjadi jelas bagi kita bahwa  manusia memang betul betul boleh disebut “ens metaphysicum’, menurut  Aristoteles artinya makhIuk yang menurut kodratnya berfilsafat.

Jika memarm  demikian halnya jika betel-betel setiap orang karena kodratn terdorong filsafat maka apakah harus kii katakan bahwa setiap, orang pasti menjadi seorang ahli filsafat? .Apakah filsafat itu niscaya timbul? Jika  dernikian, mengapa tidak setiap orang tidak kita lihat bermenunit-menung sebagai filsuf.?

  1. RUMUSAN MASALAH
  2. Bagaimana hubungan antara manusia dan filsafat?
  3. Mengapa filsafat bersifat eksistensial?
  4. Sebutkan beberapa jalan ke filsafat?
  5. Mengapa kodrat jasmani dan rohani mendorong ke filsafat?
    1. TUJUAN

Tujuan dari mempelejari timbulnya filsafat

  1. Pembaca dapat mengetahui hubungan antara filsafat dengan manusia
  2. Agar pembaca dapat memahami filsafat yang bersifat eksistensial
  3. Pembaca mampu menguraikan beberapa jalan ke filsafat
  4. Agar dapat memahami hubungan jasmani dan rohani dengan filsafat

 

  1. KEGUNAAN

Kegunaan makalah ini agar dapat memberikan pengetahuan kepada mahasiswa akan timbulnya filsafat.

Memudahkan mahasiswa untuk mempelajari materi timbulnya filsafat.

 

  1. METODE

Metode yang digunakan adalah metode dengan teknik pengumpulan data.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1.      MANUSIA ADALAH “ENS METAPHYSICUM”

Pengertian tentang filsafat yaitu dengan menemukan  bagaimana filsafat itu timbul dari kodrat manusia artinya asal ada manusia, ada filsafat; karena sesuai dengan kodratnya manusia itu.

Telah dikatakan: filsafat adalah bentuk pengetahuan tertentu, bahkan bentuk pengetahuan  manusia yang tersempurna, merupakan perkembangan yang terakhir daripada “pengetahuan biasa”. Inilah yang sekarang harus diperdalam. pengetahuan buss tetap merupakan dasarnya, sekarang hanya ingin kami kemukakan beberapa aspek lain, selain ilmu-ilmu pengetahuan yang semuanya-  mendorong manusia ke arah filsafat.

Hingga menjadi jelas bagi kita bahwa  manusia memang betul betul boleh disebut “ens metaphysicum’, menurut  Aristoteles artinya makhIuk yang menurut kodratnya berfilsafat.

Jika memarm  demikian halnya jika betel-betel setiap orang karena kodratn terdorong filsafat maka apakah harus kii katakan bahwa setiap, orang pasti menjadi seorang ahli filsafat? .Apakah filsafat itu niscaya timbul? Jika  dernikian, mengapa tidak setiap orang tidak kita lihat bermenunit-menung sebagai filsuf.? Uuntuk menerangkan hal ini, maka kita harus membedakan antara :

-          Filsafat sebagai ilmu pengetahuan dan

-          Filsafat dalam arti yang lebih luas, yaitu dalam arti : usaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup, menanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu.

Maka filsafat sebagai ilmu pengetahuan ang tersendiri niscaya adanya, itu meminta tingkatan kebudayaan yang yang agak tinggi. Sebaliknya filsafat dalam arti yang lebih lugs, dalam arti anasir-anasir filsafat dalam pikiran manusia itu dapatlah kita katakana tentu ada, biarpun hanya sedikit. Lagi pula dalam masyarakat yang tingkatannya belum berkembang kita jumpai pikiran-pikiran tetnang “sebab dan akibat”. Pandangan-pandangan tentang manusia, Tuhan dan dunia, pendapat-pendapat tentang hidup, tentang perbuatan-perbuatan manusia yang baik dan yang buruk atau etika dan lain-lain.

Jadi pandangan-pandangan yang sifatnya telah dapat disebut “metafisik”. Hanyalah kesemuanya itu tidak atau lebih tepat dikatanan: hanyalah dipikir-pikirkan, dipertanggungjawabkan. Disusun-susun secara ilmu pengetahuan. Hal ini memerlukan proses pertumbuhan yang agak lama, seperti itu juga halnya semua ilmu pengetahuan lainnya.

  1. FILSAFAT BERSIFAT EKSISTENSIAL

Filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang kita pelajari sekarang ini sering nampak sukar, karena memang mengandung pandangan-pandangan yang muluk-muluk yang dalam-dalam dan sukar mengerti. Akan tetapihal ini tidaklah berarti bahwa filsafat  itu lalu tidak ada artinya malahan sebaliknya, karena yang dipersoalkan dalam filsafat itu ialah: dari kita sendiri. Filsafat ada lah “eksistensial ” sifatnya, erat hubungannya dengoi-bidup kita sehari-hari, dengan adanya manusia sendiri. Hidup kita sendiri yang-memberikan bahan-bahan untuk direnungkan. Filsafat berdasasarkan dan berpangkalan pada manusia yang korikrit, pada diri kita yang hidup di dalam dunia dengan segala persoalan-persoalan yang kita hadapi apabila dalama filsafat terdapat teori-teori yang muluk-muluk dan sukar maka hal itu maksud dan tujuannya tidak, lain hanya ingin menerangkan kenyataan yang konkrit dan real yang kita alami di dunia ini filsafat itu berbeda-beda menurut masa diperkembangkannya. Berganti-ganti yang dipersoalkan atau yang dititikberatkan ialah:’

  1. dunia yang mengelilingi kita
  2. sikap hidup atau kesusilam
  3. hubungan antara manusia dan Tuhan atau sikap religius.
  4. struktur dan susunan pengetahuan dan sebagainya.

Sekarang ini makin banyak dititikberakan pada sifat eksistensial bahwa kita dalam filsafat harus berpangkal pada situasi kita sendiri di dalam dunia ini. Justru sifat eksistensial iniliah yang dijadikan dasar dari aliran filsafat “Eksistensialisme” yang berkembang pada abad ke 20 ini.

Jadi filsafat adalah pernyataan atau penjelmaan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap orang. Maka walaupun tidak setiap orang hidup dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalan dalam filsafat itu memang berarti bagi kita semua.

  1. PERMULAAN FISAFAT ADALAH KEHERANAN

Menurut Aristoteles filsafat dimulai dengan suatu thauma (rasa kagum) yang timbul dari suatu aporia, yakni suaut kesulitan yang dialami karena aanya percakapan-percakapan yang saling kontradiksi. Istilah aporia dari bahasa Yunani juga berarti problema, pertanyaan atau “tanpa jalan ke keluar”. Hasrat akan mengerti itu menyatakan diri dalam bermacam-macam pertanyaan-pertanyaan yang sungguh-sungguh tak mudah dijawab dengan sekaligus. Keheranan itu dapat berpangkal pada hal-hal yang sangat biasa saja, misalnya: tentang bunga, pohon, burung, kucing,dan lain-lain. Dan yang teraneh dari kesemuanya itu ialah manusia itu sendiri. Manusia tentu mempersoalkan dirinya sendiri, bahkan boleh dikatakan ia adalah teka-teki bagi dirinya sendiri suatu tanda Tanya besar suatu persoalan yang harus dikerjakan sendiri itu semua sering diistilahkan dengan perkataan “Rahasia Hidup”. Rahasia artinya pertanyaan atau persoalan yang tak dapat dijawab dengan memuaskan sepenuhnya, karena jawaban yang diberikan itu selalu menimbulkan seratus pertanyaan lain lagi sebab selalu ada saja terkandung arti yang tidak atau belum kita tangkap. Itulah sebabnya filsafat tak akan selsesai penyelidikannya. Dan anehnya ini tidak menyebabkan kita lalu putus asa melainkan sebalinya.

Keheranan berubah sifatnya menjadi kekaguman yang memperkaya manusia.

Apakah “keheranan” itu telah boleh disebut “filsafat”? belum dapat disebut filsafat. Keheranan barulah permulaannya. Usaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, untuk menyelami itu barulah disebut filsafat apabila dilakukan secara sistematik.

Tetapi selalu ada juga orang yang tak ingin “memiliki” sesuatu melainkan ingin “mengetahui” sesuatu. Dan kata Plato “mengetahui adalah memiliki dengan jiwa” mereka inilah yang memperkembangkan filsafat yang tulen atau yang asli, tumbuh dari persoalan hidup konkrit. Sifat menjauhkan diri inilah yang dimaksudkan dengan apa yang disebut sifat keilmuan obyektif.

  1. BEBERAPA JALAN KE FILSAFAT

Telah kita tunjuk beberapa “jalan” ke filsafat. Marilah sekarang kita menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Dalam BAB I tela dikatanan bagaimana dorongan untuk mengerti mendorong manusia pertama-tama akan ilmu pengetahuan.
  2. Selain  daripada itu ada jalan lain lagi yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang timbul bagi setiap orang demkian juga bagi mereka yang tidak mendapat pendidikan di Perguruan Tinggi
  3. Keinginan akan kebahagiaan

Setiap orang ingin hidup dengan selamat damai dan bahagia, seorang pun tiada yang ingin hidup dengan susuah payah atau terhina dan sebagainnya. Karena jika keinginan yang satu kita puaskan, sebentar akan timbul keinginan lain lagi, maka hilanglah rasa kepuasan itu. Keadaan yang kita sebut “kebahagiaan” artinya keadaan dimana semua keinginan-keinginan kita terpenuhi, yang membawa ketenangan dan ketentraman hati yang sepenuhnya itu nampaknya sukar tercapai.

  1. Kesusilaan

Suatu hal lain yang menimbulkan soal-soal filsafat ialah bahwa manusia terikat oleh suatu cara bertindak suatu pola tingkah laku atau perilaku yang kita sebut kesusilaan atau etika. (Dalam ajaran Islam disebut : amar ma’ruf nahi munkar). Manusia tidak hanya merupakan teka-teki dirinya sendiri, tetapi juga suatu “tugas” yang harus diselenggarakan dengan sebaik-baiknya.

Adapun aturan-aturan kesusilaan atau pola tingkah laku itu hanyalah dapat dilaksanakan berdasarkan keyakinanan akan kebenaran dan didukung oleh kehendak yang bebas merdeka.

  1. Manusia yang mempersoalkan Tuhan

Ada yang membantah akan adanya Tuhan. Demikian kita mempersoalkan dunia, dari mana asalnya, ke manakah arahnya, dan tujuan, bagaimanakah mungkin adanya aturan dan tata tertib yang kita lihat di dalamnya yang disebut hukum alam? Dan sebagainnya.

  1. Mengenai diri kita sendiri

Pada akhirnya semua persoalan itu kita kembalikan kepada diri kita sendiri. Manusia tentu mempersoalkan dirinya sendiri, bahkan inilah soal yang pertama timbul pada waktu kita menjadi dewasa. Tetapi anehnya perkembangan “cipta” atau ilmu pengetahuan itu tidaklah member pertolongan atau kekuatan untuk menguasai dirinya sendiri.

  1. Dan bermacam-macam pertanyaan lain lagi

Misalnya:

1)      Apakah “cinta” itu dan apakah rasa benci “serta “rasa rindu” itu…?

2)      Mengapakah ada keburukan di dalam dunia, penyakit penyakit, perang, malapetaka, susah sadis…?

3)      Apakah bahasa itu, bagi perhubungan jiwa antara orang seorang dengan sesamanya?

4)      Manusia tentu hidup bermasyarakat. Apakah artinya itu?

5)      Manakah yang penting: orang seorang ataukah kolektifitas/golongan? Manusia tak dapat hidup terlepas dari masyarakat tetapi sering melawan masyarakat juga

6)      Manusia tentu menciptakan kebudayaan, maka apakah artinya itu?

7)      Mengapa manusia itu tentu berbuat demikian?

8)      Apakah adil, mengapa ada tertib hukum…? Dan sebagainya

Ini semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang dapat timbul bagi setup orang yang hidup dengan kesadaran. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sangatlah perting bagiu seluruh hidup dan kehidupan mansia, sebab inilah yang menetukan sikap kita terhadap dunia seisinya dan terhadap Tuha.

  1. FILSAFAT TIMBUL DARI KODRAT MANUSIA

Dorongan untuk mengerti timbul dari kodrat manusia

Hal ini diterangkan sebagai berikut:

1)   Kenyataan bahwa manusia mengerti dan bahwa hidupnya tergantung dari pengetahuannya, hal itu tak dapat dipungkiri.

2)   Setiap perbuatan manusia menghendaki pengetahuan tentang apa yang diperbuatnya.

 

Filsafat timbul dari dorongan untuk mengerti

Hal ini disimpulkan sebagai berikut:

1)      Manusia tentu berusaha untuk menyempurnakan kehidupannya dan dalam usaha itu pikirannya ikut dengan aktif berperanserta.

2)      Juga terlepas dari keperluan-keperluan hidupnya ia merasakan keinginan untuk menyempumakan pengetahuannya karena hal itu dirasakan sebagai suatu hal yang sangat berharga baginya.

3)      Kesempumaan pengetahuan itu juga belumlah tercapai dalam ilmu-ilmu pengetahuan.

4)      Akan tetapi ilmu pengetahuan itu juga belumlah cukup, karena ilmu-ilmu pengetahuan itu sendiri menelorkan banyak pernmyaan yang tidak dapat dijawab di dalam ilmu-ihnu pengetahuan itu sendirL

5)      Di camping itu manusia berhadapan dengan bermacam-macam pertanyaan yang sukar mengenai dasar-dasar yang terdalam dari hidupnya sendiri.

6)      Semua pertanyaan itu tidak dapat dijawab dalam suatu ilmu pengetahuan yang khusus, yang terbatas lapangannya.

7)      Jadi kita membutuhkan suatu ilmu pengetahuan tersendiri, yang mempelajari dasar-dasar yang terdalam dari seluruh hidup dan kehidupan manusia yaitu ilmu filsafat

Jadi teranglah bahwa filsafat itu lahir dari dorongan untuk mengerti dengan sempuma.

  1. KODRAT MANUSIA MENDORONG KE FILSAFAT

Dorongan ke filsafat itu kita kembaRan kepada kodrat manusia. dan bagaimanakah kodrat manusia itu mendorong akan berfilsafat.

Perumusannya sebagai_ berikut:

  1. Kodrat manusia adalah rohani – jasmani
  2. Nah, kodrat rohani-jasmani ini menyebabkan timbulnya dorongan berfilsafat, artinya akan berpikir dan mengerti sedalam-dalamnya.
  3. Jadi dorongan untuk berfilsafat itu lahirnya dari kodrat manusia.

 

 

Ada.a. kodrat manusia adalah rohani – jasmani

Bahwa manusia adalah rohani – jasmani itu sebetulnya harus diterangkan dalam filsafat tentang manusia (antropologi metaphysica/filsafat antropologi). Tingkah laku manusia berlainan sekali dengan tingkah laku hewan. Manusia adalah merdeka, ia dapat mengerti, ia dapat menciptakan kebudayaan, ilmu-ilmu pengetahuan, ia dapa mempunyai cita-cita yang luhur dengan mengorbankan barang-barang materiil (jasmani).

Ad.b. Kodrat rohani – jasmani mendorong ke filsafat

Sekarang harus ditunjukkan bahwa kodrat yang semacam itu tentulah melahirkan dorongan untuk berfilsafat.

Adapun jalannya sebagai berikut:

1)      Manusia adalah suatu kebulatan yang intinya ialah jiwa

2)      Ini berlaku bagi seluruh manusia termasuk juga bagi pengetahuannya. Kodrat rohani jasmani bagi pengetahuan itu, berarti bahwa pengetahuan kita juga melalui badan, dengan perantaraan panca-indra manusia.

3)      Akan tetapi dalam pada itu jika yang terjadi “prinsip ada dan hidup kita” itu adalah rohani maka demi prinsip ini, demi jiwa kita ini, kita mengatasi pembatasan tersebut. Di dalam gejala-gejala jasmani tersinggung unsur-unsur rohani, kedua-duanya selalu terdapat bersama-sama dan tercampur.

4)      Karena pengetahuan rohani ini seakan-akan “terbungkus” dalam pengetahuan jasmani, maka berusahalah jiwa untuk  mengatasi keseluruhan, mengetnai dasar-dasar dan sebab-sebab yan terakhir.

5)      Dan kesempurnaan pengetahuan kita adalah: mengerti denan sedalam-dalanya (tidak yang pertama untuk mengerti lebih banyak) dan itulah yang disebut pengetahuan filsafat

Ad.c. Jadi kodrat untuk berfilsafat itu lahirnya dari kodrat manusia.

  1. FILSAFAT SEBAGAI HASIL EVOLUSI

Hasrat ini adalah kesempurnaan pikiran manusia, perlu bagi manusia dan memperkaya manusia. Nah, dengan makin berkembangnya kebudayaan terasalah keinginan dan kebutuhan manusia untuk menyusun pengetahuan itu secara sistematis, sebab system itu memberikan kepastian, ketelitian, dan kemungkinan-kemungkinan yang lebih besar. Jadi ada hubungannya antara tingkatan evolusi manusia dengan tingkatan kebudayaan. Hanya berdasarkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh mereka yang telah mendahului kita filsafat dapat berkembang, maju setapak demi setapak dari yang mudah-mudah menerobos sampai kepada yang sulit-sulit

  1. FILSAFAT SABAGAI AJARAN HIDUP

Sebenarnya pada hakikatnya keinginan yang terdapat dalam hati kita itu tidak hanya dorongan untuk mengerti saja. Itu hanya satu aspek saja, satu fungsi saja, meskipun satu fungsi yang sangat penting bagi keseluruhan manusia.

Dalam kalangan suku Jawa dorongan ini kerapkali terlihat dalam upaacara yang menganjurkan supaya manusia mengerti “sariro sejati” (apakah dia sebenarnya).

Demikianlah kalimatnya sebagai berikut : “Ye siro yen wit ono/jatining sariro iku/ den wruh pait seseliran” artinya : jika engkau hendak mengerti dirimu sendiri yang sebenar-benarnya, engkau harus mengerti” mati yang tercinta”

Hal ini tidak akmi bertangkan disini dan kami kemukakan ialah untuk menunjukkan apakah sebenarnya fislafat itu dan bagaimanakah timbulnya filsafat itu. Pada hakikatnya: “filsafat adalah pengertian tentang manusia sekedar ia bergerak kearah Tuhan.

Sekarang kita akhirilah bab ini dan sesudah mengerti tentang arti, isi dan timbulnya filsafat itu maka seyogyanyalah diterangkan bagaimanakah orang membagi-bagi filsafat itu seperti pada bab berikut.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

SIMPULAN

Pengertian tentang filsafat yaitu dengan menemukan  bagaimana filsafat itu timbul dari kodrat manusia artinya asal ada manusia, ada filsafat; karena sesuai dengan kodratnya manusia itu.

Filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang kita pelajari sekarang ini sering nampak sukar, karena memang mengandung pandangan-pandangan yang muluk-muluk yang dalam-dalam dan sukar mengerti. Akan tetapihal ini tidaklah berarti bahwa filsafat  itu lalu tidak ada artinya malahan sebaliknya, karena yang dipersoalkan dalam filsafat itu ialah: dari kita sendiri.

Menurut Aristoteles filsafat dimulai dengan suatu thauma (rasa kagum) yang timbul dari suatu aporia, yakni suaut kesulitan yang dialami karena aanya percakapan-percakapan yang saling kontradiksi. Istilah aporia dari bahasa Yunani juga berarti problema, pertanyaan atau “tanpa jalan ke keluar”.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Salam, Burhanudin, Pengantar Filsafat, Bumi Aksara, Jakarta

 


 

 

About these ads

Tentang bytesmarwoto

umur 29 tahun punya anak 1 punya istri 1
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s